Minggu, 27 Maret 2016

Pangan, Sandang, Papan untuk Rakyat

Apa yang sedang berkecamuk di panggung politik Indonesia memang menarik untuk ditonton. Betapa tidak menarik, menyaksikan kemelut politik antara Koalisi Merah Putih melawan Koalisi Indonesia Hebat, KPK versus polisi, Golkar Bakrie lawan Golkar Laksono, Gubernur Jakarta berhadapan dengan DPRD Jakarta, kasus Kepala Staf Kepresidenan, “penumpang gelap” dan “anak indekos”, uang muka mobil dinas, harga BBM naik-turun, Wakapolri dan beragam kemelut politik, dikompori media massa. Apalagi, media sosial yang memang gemar pertarungan politik.

Makin seru kemelut politik, makin laris produk-produk jurnalistik, jasa politik, dan jasa hukum. 
Tidak perlu disangkal bahwa secara bisnis, era Reformasi dengan segala perbenturan politik secara lebih terbuka, memang membawa industri jurnalistik, jasa politik, dan jasa hukum ke masa keemasan.
Makin banyak KPK menangkap koruptor, makin banyak pula para produsen jasa hukum memperoleh pelanggan. Makin buruk bad news, makin bagus kemungkinan industri jurnalistik meningkatkan profit. Talk-shows paling diminati para pemasang iklan adalah yang paling menampilkan kontroversi politik. Para politikus dan mereka yang ahli politik sengit berdebat di panggung talk-show.
Sebagai penulis, saya juga bersyukur sebab tidak pernah kekurangan bahan tulisan. Sampai saya bingung memilah dan memilih bahan mana yang perlu dan tidak perlu saya tulis. Memang, industri hiburan politik benar-benar mengalami masa keemasan akibat kebebasan menyampaikan pendapat setelah sekian lama tertekan.
Kini pada era Reformasi, kebebasan memang sangat bebas sampai sering kebablasan.  Untuk mengetahui apa yang terjadi di panggung kehidupan rakyat, saya memaksakan diri bangun dini hari untuk jalan keliling kawasan Hotel Sahid Jaya dan Midplaza sampai ke Citilooft Sudirman, yang tergolong kawasan kelas wahid di Indonesia, agar bisa bertemu dan berbincang langsung dengan para sopir taksi, pengojek sepeda motor, pedagang kaki lima, pengusaha warung makan, pemulung yang pukul 05.00 dini hari sudah giat mencari nafkah untuk keluarga.
Mengharukan bagaimana para pengusaha warung makan dan pedagang kaki lima rutin membayar retribusi, ikhlas setiap saat digusur. Sopir taksi dan pengojek sepeda motor mengeluh sebab harga BBM naik dan tarif terpaksa ikut naik, seperti halnya harga sembako sehingga terpaksa penghasilan menurun. Ada pemulung yang mempunyai enam anak mengeluh soal sekolah gratis, tetapi harus bayar uang gedung, buku, ujian, seragam, atau study tour ke Bali.
Semua menyatakan tidak peduli apa yang terjadi di panggung politik. Panggung kehidupan mereka sehari-hari jauh lebih penting untuk dipedulikan, bahkan diperjuangkan. Hanya satu dan satu-satunya yang antusias bicara politik sebab kebetulan mantan anggota parpol yang dikecewakan parpolnya sampai terpaksa menjadi sopir taksi.
Kesan rakyat tidak peduli politik tetapi lebih peduli nafkah juga saya peroleh ketika blusukan di kawasan kumuh Jakarta Utara, untuk menyerahkan sumbangsih jamu bagi para korban banjir. Apa yang terjadi di panggung kehidupan rakyat memang beda, seperti Bumi dengan langit, dari apa yang dipergelar di panggung politik.
Insya Allah para pelaku politik berkenan sejenak mawas diri, mengenai apakah yang mereka sedang asik lakukan di panggung politik itu berkaitan dengan subjek kebutuhan rakyat Indonesia, yang mereka elu-elukan, sebagai objek slogan dan kampanye politik masing-masing. 
Hal yang benar-benar didambakan rakyat memang sebenarnya bukan hiburan komedi atau tragedi, apalagi horor politik; melainkan pangan, sandang, dan papan bagi diri dan keluarga masing-masing.

Mengapa Selalu 'Sandang, Pangan, Papan'?

Setiap kali jalan-jalan ke daerah pemukiman atau bertandang ke rumah seseorang, ada satu hal yang selalu menarik perhatian saya. Rumah dan gaya hidup. Keisengan saya untuk memperhatikan ini berawal dari keheranan menyadari bahwa saat ini, seseorang dengan gaya hidup mewah, dalam arti sandang dan pangan yang mewah, belum tentu memiliki papan atau rumah yang mewah pula. Keadaan sebaliknya juga sering kita jumpai di hidup ini. Padahal biasanya orang akan berpikiran jika penampilan seseorang cukup sederhana, maka hartanya juga biasa saja.

Maklum.. pemikiran seperti itu juga berdasar pada 'kenapa uangnya tidak buat memperlayak rumah saja daripada buat beli pakaian?'. Pemikiran ini menggiring saya ke istilah yang sudah mendarah daging di otak kita, yaitu sandang, pangan, papan. Mengapa tidak dibuat pangan, papan, sandang atau papan di tempat pertama? Sepertinya memang seperti inilah tabiat manusia.

Jika Anda tidak mencukupi kebutuhan pangan dengan baik, orang lain tidak bisa langsung menyadarinya sampai terjadi sesuatu dengan kesehatan Anda. Begitu pula dengan papan atau rumah, Anda tidak membawanya ke mana-mana, jadi sepanjang Anda tidak sering menerima kunjungan di rumah maka kebutuhan untuk rumah yang layak dan indah masih bisa dikesampingkan. Sedangkan penampilan atau sandang, adalah sesuatu yang selalu melekat dengan diri kita, dibawa saat berhadapan dengan banyak orang di berbagai acara, oleh karena itu mutlak harus didahulukan dibanding kebutuhan yang lain.

Apakah Anda juga demikian? Tidak perlu malu mengakuinya, karena tidak ada benar salah dalam hal ini. Semuanya tergantung pada kepribadian dan kenyamanan Anda. Setidaknya yang terbaik adalah, Anda memiliki standar yang cukup layak untuk ketiga elemen tersebut. 

Rumah yang layak setidaknya memiliki dapur dan kamar mandi yang bersih, ruang yang leluasa, cukup penerangan dan sirkulasi udara yang baik, serta interior yang nyaman. Sedangkan makanan, sudah jelas standarnya yaitu dalam jumlah cukup, sehat dan bergizi. Untuk penampilan, standarnya Anda memiliki beberapa pasang pakaian yang bisa dipakai untuk acara formal, hang out dan gaun cantik untuk ke pesta; seperangkat alat make-up dasar, alas kaki untuk berbagai keperluan, handphone yang masih berfungsi dengan baik dan kendaraan yang cukup terawat untuk memfasilitasi kemandirian Anda.

Hal yang memalukan adalah jika ketiga elemen tersebut tidak seimbang, contohnya mobil mewah, pakaian selalu trend terbaru namun rumahnya masih bocor dan reyot di sana-sini. Pakaian up-to-date (selalu pakaian jadi yang nomer 1) namun untuk urusan makan, memilih yang harganya paling rendah dengan tingkat kesehatan yang tidak terjamin. Well.. semoga setelah ini contoh-contoh yang bisa membuat dahi mengernyit ini bisa lebih diseimbangkan

Sandang, Pangan dan Papan


  • Sandang
Sadang atau lebih di kenal dengan Pakaian, pakaian tentu saja berfungsi untuk menutup aurat, menghangatkan tubuh dan lain sebagainya. pada Jaman purbakala memang manusia belum membutuhkan pakaian. namun seiring berjalanya waktu, pakaian menjadi sangat di butuhkan dan menjadi salah satu kebutuhan yang harus di penuhi oleh manusia. Tanpa sandang Manusia masih bisa bertahan hidup, akan tetapi jika sesorang tidak mengenakan pakaian, maka umumnya yang terjadi adalah kedinginan, masuk angin dan merasa malu untuk berbaur dengan orang lainya. Saat ini, penggunaan pakaian tidak hanya sebatas sebagai penghangat tubuh dan penutup aurat saja. Tetapi juga sebagai penghias tubuh dan sebagai penunjuk status sosial.
  Jadi, sandang adalah kebutuhan pakaian (baju dan celana) yang akan melindungi tubuh dari panas, dingin, hujan, atau sengatan matahari.

  • Pangan
Pangan dapat kita artikan sebagai makanan dan di sini juga suda termasuk minuman. Makanan tentu saja adalah kebutuhan pokok yang paling utama di butuhkan setiap makhluk hidup. Tanpa adanya pangan, manusia tentu saja tidak akan membut untuk bertahan hidup. pangan juga berfungsi untuk pemberi nutrisi bagi pertumbuhan sesorang. oleh sebab itulah, makanan yang layak dan sehat merupakan kebutuhan setiap manusia dari zaman dahulu hingga kiamat kelak. pangan tersebtu berupa sembako (sembilan bahan pokok: Beras, sagu, dan jagung; gula pasir; sayur-sayuran dan buah-buahan; daging; minyak goreng dan margarin; susu; telur; minyak tanah atau LPG; dan garam beriodium dan bernatrium).
   Jadi, pangan adalah kebutuhan nutrisi yang menggerakan organ tubuh untuk aktivitas sehari-hari. Sebut saja makanan empat sehat dan lima sempurna, air, dan udara.


  • Papan
Papan berarti rumah ataupun tempat tinggal, papan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi manusia saat ini, memang tanpa tempat tinggal manusia masih bisa bertahan hidup akan tetapi tanpa tempat tinggal manusia tidak terlindungi dari hujang, angin malam yang dingin, binatang yang buas, pencuri dan juga manusia tentu saja akan mendapat gangguan psikologis.
Papan juga dapat berfungsi sebagai penunjuk sosial. seperti orang yang tinggal di rumah yang sederhana atau kos-kosan status sosialnya tentu akan berbeda dengan orang yang tinggal di apartemen ataupun Rumah mewah.
   Jadi, papan adalah kebutuhan tempat tinggal untuk tidur, beristirahat, dan berlindung dari hujan atau terik matahari.

Jumat, 18 Desember 2015

cerpen





            Warna dalam Sebuah Karya



Tak terasa telah sebulan Ayah meninggalkan kami semua. Ia adalah sosok Ayah, Pemimpin, dan Seniman bagi kami. Mama sangat terpukul atas kepergian Ayah. Ayah meninggalkan 5 orang anak yaitu, Kak Nia, Kak Karin, Bang Andi, Bang Kiki, dan yang terakhir adalah aku Risa, seorang bocah yang ditinggal Ayahnya ketika berumur 13 tahun. Sebelum kepergian Ayah, Ia berpesan kepada kami, “Jangan nakal ya anak-anakku jangan sampai Mama kalian meneteskan air mata. Andi dan Kiki jaga Ibu, Kakak, dan Adik kalian ya sayang Ayah.” Kami semua mendengar apa yang dikatakan Ayah.
Malam sebelum kepergian Ayah, kami semua masih bercanda sambil menonton televisi. Ketika hendak tidur sekitar jam 12.30, Jantung Ayah kambuh, kami segera membawa Ayah ke rumah sakit. Dalam perjalanan Ayah berpesan kepadaku “Risa anak Ayah jangan lupa salat ya nak, dan ingat satu hal hanya dengan sewarna tinta mampu membuat suatu karya yang luar biasa.”
“Iya yah” jawabku, yang pada saat itu aku belum mengerti apa arti dari ucapan Ayah.
Tak berapa lama kami pun sampai, Ayah langsung masuk ke ruang ICU. Dokter segera memeriksa nadi Ayah. Aku berharap Ayah bisa disembuhkan. Tapi Dokter bilang Ayah sudah tiada. “Dok, coba periksa lagi Ayah itu masih hidup.” tegasku.
“Mohon maaf nak, Ayah kamu sudah tiada. Kami sudah memeriksa nadinya tapi tidak ada respon. Kalian semua yang sabar ya.” kata Dokter.
Kami semua langsung memeluk Mama, kami sangat berduka atas kepergian Ayah.
Setengah windu kemudian.
Kak Nia lulus S2 di salah satu Universitas Yogyakarta dan ia juga sudah berkeluarga di sana. Begitu juga Kak Karin dan Bang Andi, mereka sudah lulus di Universitas yang ada di Padang dan sudah berkeluarga di sana. Mereka sudah tidak tinggal bersama Mama. Sekarang yang ada di rumah hanya ada Aku, Mama, dan Bang Kiki. Bang Kiki sedang menyelesaikan S1 di Universitas Sumatera Utara dan aku sedang duduk di bangku SMA kelas 3. Mama adalah seorang Guru yang telah membesarkan kami setelah kepergian Ayah. Mama banting tulang demi kesuksesan anak-anaknya dan ia adalah orang yang sangat luar biasa.
“Ma Risa pijatkan yaa.. Mama pasti cape.” ujarku.
“Makasih sayang.” kata Mama.
Setiap pagi Mama selalu menyiapkan sarapan dan mengantarku ke sekolah, lalu ia pergi mengajar. Bang Kikilah yang selalu membantu Mama menyiapkan sarapan pagi.
“Makasih sayang.” kata Mama. “Iya Ma.” jawab Bang Kiki.
Setelah beberapa tahun kemudian, Bang Kiki sudah lulus S1 dan melanjutkan S2 di Padang. Dan setelah tamat nanti aku ingin kuliah di Yogya, tapi kuputuskan untuk kuliah di Medan mengambil jurusan seni dan budaya. Satu hal yang membuatku mengambil jurusan itu adalah karena aku menyukai seni dan ingin menjadi Seniman apalagi pesan Ayah yang selalu kuingat di hati. Aku pernah ikut berbagai lomba seni, seperti menyanyi dan melukis. Sering menang dan juga sangat sering kalah namanya juga kompetisi ada yang menang dan ada yang kalah.
Beberapa bulan ini Mama mulai sering sakit-sakitan. Kakak dan Abang sedang sibuk di luar kota. Aku dan Mama telah lama menanti untuk menjenguk kami. Akhirnya Mama pun masuk rumah sakit. Pada saat itu juga aku sedang mengikuti lomba melukis. Ketika sedang mengikuti lomba salah seorang kerabat Mama menghubungiku dan mengatakan kalau Mama masuk rumah sakit dan di hari itu juga ku batalkan lomba melukis dan segera pergi ke rumah sakit.
“Mama.. Mama.. bagaimana keadaan Mama? Sudah baikan belum?” tanyaku.
“Sudah nak, Mama sudah baikan. Risa sudah makan?” tanya Mama.
“Risa sudah makan ma.” kataku.
“Bukannya kamu hari ini lagi lomba melukis kenapa kamu di sini?” tanya Mama.
“Ma soal lomba bisa kapan-kapan kok, yang terpenting Risa bisa nemenin Mama.” kataku.
“Makasih ya sayang.” kata Mama.
Sore harinya Kakak dan Abang balik ke Medan dan di saat itu pula dokter sudah mengizinkan Mama untuk pulang. Kakak dan Abang tinggal selama seminggu di sini Mama sangat bahagia karena bisa berkumpul dengan anak, menantu, dan juga cucunya.
Setelah seminggu.
“Nenek besok Caca balik ke Yogya.” ujar Caca anak Kak Nia.
“Iya nek, Isan besok juga pulang ke Padang, padahal di sini enak ada Kak Risa.” sahut Isan anak Bang Andi.
“Kan kapan-kapan kita bisa jumpa lagi sayang.” ucapku.
“Bener ya kak?” kata Isan dan Caca.
“Iya sayang.” kataku.
Esok harinya Kakak dan Abangku pulang ke Yogya dan Padang. “Ma kami pulang dulu ya, Mama jaga kesehatan jangan sakit-sakit lagi kami sayang Mama.” ujar mereka.
“Iya nak hati-hati.” kata Mama sambil mencium dan memeluk mereka. Rumah kembali sepi hanya ada aku dan Mama.
“Sepi lagi deh..” sahutku.
“Kan ada Mama.” kata Mama tersenyum.
“Iya ma.” kataku memeluk Mama.
Keesokan harinya.
“Ma, Risa pergi ke kampus ya.” kataku.
“Iya sayang hati-hati.” kata Mama.
Sampai Kampus, aku melihat papan mading dan di sana tertulis lomba melukis tingkat Asia. Aku sangat tertarik pada lomba tersebut. Sepulang dari kampus, aku langsung memberitahu Mama dan meminta izin mengikuti lomba tersebut. Mama mengizinkanku dan lomba dilaksanakan dalam waktu sebulan.
Aku pun mulai melukis pada awal Bulan Maret. Tak terasa aku sudah membuat tiga lukisan sekaligus dan hasilnya memuaskan. “Ma, manakah dari ketiga lukisan ini yang bisa aku kirimkan?” tanyaku. “Semuanya bisa dikirimkan tapi menurut Mama lukisanmu yang naturalis ini yang sangat indah.” kata Mama.
“Oke Ma, besok Risa kirim lukisan ini.” kataku. Esoknya lukisan ini ku kirim melalui dosen seni, dan pemenang lomba akan diumumkan di pertengahan Bulan April.
Waktu itu tanggal 20 April. Mama sesak napas. Mama sesak napas dan segera membawa Mama ke rumah sakit. Mama masuk ruang ICU, dan sudah tiga hari aku tidak masuk kampus. Menjaga Mama dan berdoa semoga Tuhan memberikan kesembuhan buat Mama. Tapi, Tuhan berkata lain. Mama menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 25 April. Sebelum menghembuskan napas terakhir ia berpesan kepadaku untuk terus berkarya, jangan lupa shalat dan mengucapkan terima kasih kepadaku karena telah merawat dan menjaganya. Orang yang aku cintai kembali dipanggil sang Maha Kuasa. “Selamat jalan Mama, semoga amal ibadah Mama diterima Sang Kuasa.” Ucapku meneteskan air mata.
Setelah tiga hari berikutnya aku masuk kampus, dan di sana ada pengumuman lomba melukis yang aku ikuti sebelumnya. Aku berhasil mendapat juara 2 melukis tingkat Asia, aku gak nyangka kalau aku menang. “Terima kasih Tuhan.” sahutku.
“Selamat nak kamu berhasil mendapatkannya.” Kata salah seorang dosen seniku.
“Terima kasih pak.” kataku.
“Hey Sa yuk sini foto dulu kita.” Kata sahabatku Rizka.
“Oke ayo, ayo.” ujarku.
“Selamat ya Sa kamu menang dan turut berduka juga atas kepergian Mamamu, maaf ya aku gak bisa datang, orangtua Rizka juga sedang sakit di kampung.” Tegas sahabatku itu.
“Iya gak apa-apa makasih ya Riz. Hmm.. aku pergi dulu ya.” ucapku.                                                                                “Hati-hati Sa.” kata Rizka.                                                                                                                                                                   Aku pun pergi ke pemakaman Ayah dan Mama. Ku taburkan bunga dan berdoa semoga dilapangkan kuburnya dan semua amal ibadahnya di terima Sang Kuasa.                                                                                          “Mama.. Ayah.. Risa berhasil mendapatkan juara 2 melukis tingkat Asia, semua ini berkat Mama dan Ayah, terima kasih telah membesarkan Risa dan Risa akan selalu ingat apa yang dikatakan Mama dan Ayah, terima kasih sekali lagi Ma.. Yah..” ucapku.

Softskill Ilmu Sosial Dasar 5 Opini Terorisme

Pengertian Terorisme
 
Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serang-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh karena itu para pelakunya ("teroris") layak mendapatkan pembalasan yang kejam.
Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan "teroris" dan "terorisme", para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam pembenaran dimata terrorism : "Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang". Padahal Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.
Selain oleh pelaku individual, terorisme bisa dilakukan oleh negara atau dikenal dengan terorisme negara (state terorism). Misalnya seperti dikemukakan oleh Noam Chomsky yang menyebut Amerika Serikat ke dalam kategori itu. Persoalan standar ganda selalu mewarnai berbagai penyebutan yang awalnya bermula dari Barat. Seperti ketika Amerika Serikat banyak menyebut teroris terhadap berbagai kelompok di dunia, di sisi lain liputan media menunjukkan fakta bahwa Amerika Serikat melakukan tindakan terorisme yang mengerikan hingga melanggar konvensi yang telah disepakati.


Opini tentang terorisme

kelompok teroris sejatinya tidak lepas dari regenerasi yang terus dilakukan dengan merekrut anggota-anggota baru yang disiapkan menjadi martir. Mereka merekrut anggota dengan berbagai cara. Mulai dari pertemuan-pertemuan tertutup hingga propaganda melalui dunia maya.
Di sanalah proses transformasi mengubah individu dari radikal menjadi teroris berjalan. Sedikitnya ada 5 tangga kondisi yang mentransformasi individu menjadi teroris.
Pertama, individu mencari solusi tentang apa yang dirasakan sebagai perlakuan tidak adil. Kedua, individu membangun kesiapan fisik untuk memindahkan solusi atas persoalan tersebut dengan penyerangan.
Ketiga, individu mengidentifikasi dengan mengadopsi nilai-nilai moral dari kelompoknya. Keempat, orang yang telah masuk ke dalam kelompok teroris sangat kecil kemungkinan bisa keluar dari kelompok tersebut.                                                                                                                                                                                     Setelah melalui empat tangga sebelumnya, maka di tangga kelima, individu secara psikologis menjadi termotivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan terorisme.

Jumat, 13 November 2015

Softskill Ilmu Sosial Dasar 5

Pengertian cinta

      Cinta itu tidak rumit,hanya butuh beberapa perhatian khusus agar dapat menjalankannya
      Cinta berarti kasih sayang. Sudah kodrat manusia untuk saling menyayangi, karena hakikatnya manusia menyukai hal yang baik dan cinta itu sebenarnya sangat baik
       Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling…. (saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, saling pengertian dll). Cinta itu sendiri sama sekali tidak dapat dipaksakan, cinta hanya dapat brjalan apabila ke-2 belah phiak melakukan “saling” tersebut… cinta tidak dapat berjalan apabila mereka mementingkan diri sendiri. Karena dalam berhubungan, pasangan kita pasti menginginkan suatu perhatian lebih dan itu hanya bisa di dapat dari pengertian pasangannya.
Cinta adalah memberikan kasih sayang bukannya rantai. Cinta juga tidak bisa dipaksakan dan datangnya pun kadang secara tidak di sengaja. CInta indah namun kepedihan yang ditinggalkannya kadang berlangsung lebih lama dari cinta itu sendiri. Batas cinta dan benci juga amat tipis tapi dengan cinta dunia yang kita jalani serasa lebih ringan.
Cinta itu perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya karena ketertarikan terhadap sesuatu yang dimiliki oleh lawan jenisnya (misalnya sifat, wajah dan lain lain).

Softskill Ilmu Sosial Dasar 4

Pluralisme Sebagai Kekuatan Persatuan 
Secara Etimologi Pluralisme merupakan kata serapan dari bahasa inggris yang terdiri dari dua kata. Yakni, Plural yang berarti ragam dan isme yang berarti faham. Jadi pluralisme bisa diartikan sebagai berbagai faham, atau bermacam-macam faham. Secara terminology pluralism merupakan suatu kerangka interaksi yang mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi[1].
Seiring berjalannya waktu pengertian pluralisme telah banyak mengalami perkembangan, yang disesuaikan dengan perubahan zaman dan kepentingan dari beberapa pihak, salah satu perkembangan definisi dari pluralisme yang lebih spesifik adalah seperti yang diungkapkan oleh John Hick, yang mengasumsikan pluralisme sebagai identitas kultural, kepercayaan dan agama harus disesuaikan dengan zaman modern, karena agama-agama tersebut akan berevolusi menjadi satu.
Pengertian pluralisme diatas mempunyai anggapan bahwa semua agama adalah sama, hal inilah yang kemudian disalah gunakan oleh beberapa orang tertentu untuk merubah suatu ajaran agama agar sesuai dengan ajaran agama lain.
Kondisi tersebut jelas tidak berlaku untuk negara Indonesia, dimana kebhinekaan merupakan salah satu pedoman bangsa, dengan beragamnya suku bangsa dan agama di Indonesia, pengertian pluralisme versi John Hick akan sangat mengganggu, dan bisa menimbulkan konflik yang hanya berlandaskan emosi, karena penduduk Indonesia untuk saat ini, sangat mudah sekali terpengaruh oleh suatu informasi tanpa mau mengkaji lebih dalam.
Dengan semakin beraneka ragamnya masyarakat dan budaya, sudah tentu setiap masing-masing individu masyarakat mempunyai keinginan yang berbeda-beda, dan hal tersebut bisa menimbulkan konflik diantara individu masyarakat tersebut, untuk itulah diperlukan paham pluralisme yang mengacu kepada pengertian toleransi, untuk mempersatukan kebhinekaan suatu bangsa.
Apalagi apabila kita melihat pedoman dari bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika, yang mempunyai pengertian berbeda-beda tetapi tetap menjadi satu, yang mengingatkan kita betapa pentingnya pluralisme untuk menjaga persatuan dari kebhinekaan bangsa, asalkan pengertian pluralisme adalah toleransi. Dimana pedoman itu telah tercantum pada lambang Negara kita yang didalamnya telah terangkum dasar Negara kita juga.
Negara Indonesia adalah sebuah Negara yang terdiri dari beraneka ragam masyarakat, suku bangsa, etnis atau kelompok sosial, kepercayaan, agama, dan kebudayaan yang berbeda-beda dari daerah satu dengan daerah lain  yang mendominasi khasanah budaya Indonesia.
Dengan semakin beraneka ragamnya masyarakat dan budaya, sudah tentu setiap masing-masing individu masyarakat mempunyai keinginan yang berbeda-beda, Orang-orang dari daerah yang berbeda dengan latar belakang yang berbeda, struktur sosial, dan karakter yang berbeda, memiliki pandangan yang berbeda dengan cara berpikir dalam menghadapi hidup dan masalah mereka sendiri. dan hal tersebut kemungkinan besar akan menimbulkan konflik dan perpecahan yang hanya berlandaskan emosi diantara individu masyarakat, apalagi kondisi penduduk Indonesia sangatlah mudah terpengaruh oleh suatu informasi tanpa mau mengkaji lebih dalam. Untuk itulah diperlukan paham pluralisme dan multikulturalisme untuk mempersatukan suatu bangsa.